Kebaikan mungkin merupakan sifat genetik. Tampaknya terhubung ke gen reseptor oksitosin seseorang – orang yang memiliki genotipe GG ditemukan umumnya lebih dapat dipercaya, empati dan “pro-sosial” daripada orang yang memiliki genotipe lain dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Ilmu. Terlebih lagi, sifat ini terlihat oleh orang asing bahkan melalui kontak singkat. Dalam studi tersebut, peneliti mengidentifikasi genotipe pasangan, kemudian meminta satu pasangan mendengarkan sementara yang lain menceritakan kisah yang melibatkan penderitaan saat mereka merekam pasangan tersebut. Mereka kemudian meminta orang lain menonton rekaman itu, dan pengamat memilih sembilan dari 10 orang genotipe non-GG dalam waktu sekitar 20 detik.
Lebih banyak fakta tentang kebaikan:
Salah satu alasan mengapa orang dapat mendeteksi kebaikan pada orang lain adalah bahasa tubuh. Orang yang memiliki “gen kebaikan” biasanya memiliki bahasa tubuh yang lebih terbuka dan afirmatif daripada mereka yang tidak.
Mereka yang tidak memiliki genotipe GG mungkin hanya kurang sensitif terhadap jenis emosi atau isyarat sosial tertentu. Mereka juga secara statistik memiliki risiko autisme yang lebih tinggi.
Gen reseptor oksitosin juga terhubung dengan perasaan cinta. Oksitosin adalah hormon yang dilepaskan ketika orang jatuh cinta dan saat berhubungan seks, melahirkan atau menyusui. Ini juga membantu mempromosikan empati dan dikaitkan dengan pengakuan sosial.